Riki Cahyo Edy

Riki Cahyo Edy

Sejuknya Air Hujan Membasuh keringnya jiwa

30/06/13


Bismillaahhirrahmannirahim..

Teringat di suatu malam kurang lebih satu tahun yang lalu. Langit malam Bogor memang sedang mendung, mendung sekali,. Pertama merasa khawatir karena malam itu juga ada agenda yang penting sekali untuk dihadiri. Mulailah mencoba kontak teman apakah dia berangkat atau tidak tapi tak kunjung ada balasan sms.
Hujan benar-benar membasahi Bogor dimana sangat panas siang harinya. Hujannya amat deras, dan sempat berpikir sepertinya kondisi tidak memungkinkan untuk berangkat. Tapi hati tak nyaman dengan itu.
Pukul 20.00 teman sms, isinya “ jadi ki, ini berangkat dari rumah, tunggu di kosan ya”, selang 15 menit teman pun datang membawa motor dan memakai jas hujan. Hujan yang amat deras itu ternyata membuat jas hujan kurang berfungsi sebagaimana mestinya, tetap saja basah terutama celananya. Aku langsung masuk ke bagian belakang jas hujan dan ikut kehujanan juga. Ok, bismillah berangkat!
Di tengah perjalanan tak jauh dari kosan, tiba-tiba ban motor bocor. Kami pun ke pinggir jalan dan berteduh. Sepertinya ada saja cobaan yang menghampiri kami. Tak tahu bagaimana caranya, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat. Teman akhirnya mencari tempat tambal ban dan saya dipersilahkan duluan. Akhirnya teman mencari tempat tambal ban dan aku masih duduk di pinggir jalan berharap ada angkot yang datang karena jalan itu bukan jalan yang biasa dilewati angkot. Alhamdulillah ada angkot datang dan hujan masih sangat deras.
Aku pun turun dari angkot dan cepat-cepat menyeberang ke sisi jalan yang lain karena letak pertemuan itu ada diseberang jalan dan hujan deras masih mengguyur. Tiba di rumah pertemuan, semua sudah basah kuyub kecuali kemeja yang tertupi tas. “Asslamualaikum” aku sampaikan salam. Terdengar jawaban dari murobbi “Astagfirullah, ayo masuk, hujan deras masih berangkat juga”. Di dalam rumah terlihat sudah ada tiga orang teman yang datang lebih dulu dan mereka tertawa. Kami pun membuka pertemuan dengan membaca Basmaallah dan masing-masing dari kami membaca Al-Qur’an satu halaman. Sepuluh menit kemudia teman yang pergi menambal ban datang, “asaalamualaikum” salam darinya, Alhamdulillah datang juga, meskipun dia basah kuyub juga.


Begitulah suatu pertemuan halaqah yang kami rindu-rindukan. Cukuplah pertemuan itu membasuh jiwa ini yang sudah mulai mengering. Subhanaallah.

Menikmati Peran

15/06/13



Sebuah anugrah yang besar untuk manusia adalah kebebasan dalam memilih peran. Setiap orang memiliki kebebasan dalam memilih peran,apapun itu peran yang dimainkan dalam kehidupan ini asalkan tidak melampaui batas justru sangat dianjurkan. Bukankah kita semua tahu kalau sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat kepada yang lain, iya kan? Jadi apa peran kita itulah yang yang menentukan seberapa bermanfaat diri kita.

Setiap manusia telah terberikan visi hidup, yaitu ibadah. Visi ini adalah given atau sudah ada yang sifatnya kekal. Tapi sungguh beruntung jika kita mencoba mengerti tentang visi ini karena sering kita terjebak mengenai arti ibadah yang dianggap akan membatasi potensi-potensi yang kita miliki, tetapi justru sebaliknya IBADAH adalah guidenataupedoman yang mengarahkan agar potensi kita dapat terbimbing. Terbimbing disini berati sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.
Seseorang yang telah terbimbing tidak akan melakukan kerusakan. Bukankah syetan adalah makhluk yang paling protes dengan diturunkannya manusia ke bumi? Alasan syetan karena manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat melampaui batas dan berbuat kerusakan. Tapi Allah Maha Mengetahui dan telah memberikan visi hidup yang baku kepada manusia.

Apapun peran kita sekarang mari kita niatkan untuk ibadah. Tapi bagaimana kita tahu, apa yang kita lakukan sudah dalam kategori ibadah atau belum? Itu sudah baik atau malah buruk? Untuk menjawab pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawabnya kecuali yang memberikan visi hidup untuk ibadah itu sendiri yaitu Allah SWT. Caranya dengan mendekat kepada Allah SWT, mempelajari Al Quran-Nya, terus belajar dan terus belajar. Sama seperti pembaca, penulis juga berusaha terus belajar dan memperbaiki diri, jadi masih ada salah-salahnya, dan mohon maaf apabila saya berbuat kesalahan dan menyakiti teman-teman. Terkadang proses itu lebih penting dari hasil itu sendiri.

Kita nikmati proses belajar ini, pilihlah peran yang maksimal dimana kita bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya.